Teknik Budidaya Tanaman Gaharu

Pohon atau tanaman gaharu adalah salah satu jenis tumbuhan yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Kayunya yang berwarna hitam mempunyai kandungan resin dan selalu mengeluarkan aroma harum, sering dipakai membuat parfum. Selain itu ada yang memanfaatkannya sebagai obat penyembuh tradisional terhadap beberapa jenis gangguan kesehatan.

Dibalik harganya yang tinggi, gaharu merupakan tanaman yang mudah sekali dibudidayakan karena bisa tumbuh pada lahan apa saja. Semua karakter tanah dapat dipakai untuk menanam pohon gaharu asalkan tidak mengandung rendaman air seperti rawa atau tanah berlumpur.

Tanaman Gaharu

Tanaman Gaharu

Menyediakan dan memilih bibit gaharu

Tapi meski dapat ditanam di daerah mana saja, area terbaik untuk membudidayakan tanaman gaharu adalah lahan yang berada di ketinggian 0 hingga 1200 mdpl. Sedangkan bibitnya bisa diperoleh melalui teknik genetative dan vegetative. Apabila ingin mendapatkan bibit dengan kualitas yang baik, disarankan menggunakan teknik vegetative melalui pencangkokan.

Bibit Tanaman Gaharu

Bibit Tanaman Gaharu

Pilih batang pohon gaharu yang punya ukuran diameter paling sedikit 3 cm yang panjangnya antara 30 cm hingga ½ meter. Selain itu harus dipastikan jika calon bibit tersebut bebas dari serangan hama dan penyakit. Proses pencangkokannya membutuhkan waktu antara 4 minggu hingga 1,5 bulan dan bisa lebih cepat jika dilakukan pada musim hujan.

Menyiapkan lahan dan proses penanaman

Sambil menunggu proses pertumbuhan akar pada teknik pencangkokan berjalan, petani dapat menyiapkan lahan. Seperti yang telah disebutkan, pohon gaharu tidak butuh lahan khusus dan punya karakter tertentu untuk tumbuh.

Tetapi jaraknya harus diatur agar pertumbuhan tanaman tersebut dapat berjalan normal. Jarak paling ideal untuk menanam gaharu yaitu 3 x 3 m. Jadi tiap 1 hektar dapat dipakai menanam kurang lebih 1.111 bibit gaharu.

Adapun lubang penamamannya, yang terbaik adalah berukuran 30 x 30 x 30 cm. Pembuatan lubang ini sebaiknya dikerjakan paling tidak 2 minggu sebelum bibit gaharu ditanam. Waktu terbaik untuk mengerjakan tugas penanaman ini adalah pada pertengahan musim hujan, agar bisa mendapat pasokan air yang cukup dan cahaya matahari tidak bersinar terlalu terang.

Merawat tanaman gaharu dan harga jualnya

Setelah bibit gaharu tumbuh di lahan permanen, langkah selanjutnya yang perlu dilaksanakan adalah perawatan. Ketika masih berada dalam tahap awal pertumbuhan, pohon gaharu harus diberi naungan atau perlindungan. Naungan tersebut dapat berupa jerami atau daun tanaman lain yang ukurannya agak lebar.

Tujuan dari pemberian lindungan ini agar tanaman gaharu tidak bisa terkena pancaran cahaya matahari secara langsung. Karena gaharu merupakan tumbuhan yang tidak dapat berkembang dengan baik jika terlalu sering kena paparan sinar matahari. Apalagi jika usianya masih muda dan baru beberapa hari ditanam di lahan permanen. Selain itu juga untuk menghindari proses penguapan yang berlebihan terhadap kandungan air dalam tanah.

Perawatan penting lainnya yang tidak boleh diabaikan yaitu sistem penanggulangan terhadap serangan hama dan penyakit. Penanggulangan ini bisa dilakukan dengan pemberian pestisida. Utamakan memakai pestisida yang sifatnya organik agar lebih aman sekaligus tidak merusak lingkungan.

Jenis serangan hama yang paling sering menimbulkan gangguan pada pertumbuhan tanaman gaharu adalah serangga yang suka makan dedaunan muda. Untuk mengatasi masalah ini, bisa menggunakan semprotan insektisida yang dapat membunuh serangga dan ulat pemakan daun.

Budidaya tanaman gaharu dapat diambil panennya setelah berusia sekitar 2 tahun sejak masa tanam. Namun apabila ingin memperoleh harga jual yang lebih tinggi, sebaiknya menunggu hingga pohon tersebut berusia 6 atau 7 tahun. Dalam usia tersebut, kayu gaharu dapat dijual dengan harga kurang lebih 2,5 juta hingga 4 juta per kilo tergantung kualitasnya.

Baca info menarik lainya tentang tanaman ficus dan seputar tanaman hidroponik di blog kami, semoga isi dari blog ini bermanfaat untuk semua.

Teknik Budidaya Tanaman Gaharu | sistemhidroponik | 4.5